“Jadi begitulah, memang selama ini aku tidak pernah berfikir untuk menikah lagi. Tidak pernah. Sungguh!” Aku menatap wajah ayu di hadapanku dengan tajam. “Harus ku katakan sekarang” kataku dalam hati,untuk menambah keyakinanku.
Alya menunduk semakin dalam. Aku melihat pundaknya naik turun dengan teratur, dia tidak menangis, hatiku mendesir, namun sedikit lega.
Sejak menikah 22 tahun yang lalu, hal yang sangat kukagumi adalah sikapnya yang tenang, bahkan dalam situasi yang sangat menegangkan sekalipun.
Seperti saat dokter spesialis kandungan, yang juga sahabatnya sejak menjalani KOAS di salah satu Rumah Sakit di Ibu Kota, menggenggam tangannya dan berkata lirih,
“Maaf Alya, dengan diangkatnya kedua rahimmu, maka...” Lina tidak mampu melanjutkan kalimatnya, air matanya menggenang. Lina menggigit bibirnya dan menatapku, meminta dukungan.
Aku gemetar, mencoba mengeluarkan suara, namun tidak keluar satu katapun. Aku ingin menghiburnya, meyakinkan bahwa kesehatannya lebih penting, bahwa kami akan mengisi satu sama lain, kami akan tetap berbagi suka dan duka, menasehatinya untuk tetap bersyukur karena Allooh telah melindunginya dan menyelamatkannya dari penyakit yang berbahaya. Aku merangkul Alya dengan erat, nafasnya teratur, dia tidak menangis.
“Karena aku tidak dapat memberimu anak?” Suara Alya membuyarkan lamunanku, suaranya parau, dia sedang menekan perasaannya.
“Alya..” mataku mulai berkaca-kaca. Aku tahu ini tidak akan mudah dan ternyata sangat menyakitkan, begitulah yang kurasakan.
“Selama ini, kita tidak merasa kesepian, kita berdua, selalu cukup”. Suaraku bergetar.
“Lalu, mimpi-mimpi itu datang, seperti yang kuceritakan sebelumnya, tiga kali berturut-turut” aku mengambil nafas dengan susah payah, dadaku bergemuruh.
“Entah bagaimana, syaitan kali ini, telah menggoyahkan pendirianku”
Alya mengangkat wajahnya, aku terkejut dengan tatapan matanya yang tajam, menyelidik, dia sedang menilai kebenaran, melalui mataku, berusaha menyelami jiwaku.
“mimpi tentang gadis itu?” katanya setelah mendapat jawaban yang diinginkannya dari air mataku yang hampir menetes.
“Persis 22 tahun yang lalu, roknya yang lebar berkelebat menyapu lantai. Dia berlari-lari kecil memotong antrian, dan langsung menuju konter. Aku hampir menegurnya karena aku sudah mengantri cukup lama, dan dalam beberapa jam lagi kita akan menikah. Tapi penerbangan dibatalkan, dan kemungkinan tertinggal pesawat selanjutnya”.
“hmm..satu hari sebelum kita menikah? gadis bersepatu merah jambu itu” Alis Alya berkerut. Kalimatnya meluncur cepat.
“Iya, persis seperti yang kuceritakan, aku tidak pernah mengingat atau membayangkan kejadian itu, bagaimana alam bawah sadarku bekerja, hanya Allooh yang tahu..” aku tertunduk, memelas, sudah satu bulan aku mengumpulkan keberanian, mencoba menyusun dan merangkai kata, mencari suasana dan saat yang paling tepat. Namun, jujur, tidak ada tempat dan waktu yang tepat, untuk meminta seorang istri, ikhlas membagi suaminya dengan wanita lain, wanita yang bahkan tidak diketahui keberadaannya, bahkan wujudnya.
“Mas sudah mencarinya? Gadis bersepatu merah jambu itu?” suara Alya melembut, dia mengusap rambutku, hatiku luluh, betapa aku sangat menyayangi dan mencintainya. Aku bersimpuh di pangkuannya, menangis tersedu-sedu.
“Dia berdebat dengan petugas” kataku sambil terisak-isak, “boarding pass nya tercecer entah dimana, dia ceroboh, dan sembrono”
“hmm..tidak seperti aku? Aku selalu bisa Mas andalkan? Aku selalu bisa menjaga diri sendiri?” Alya tersenyum getir, matanya menerawang, menatap samudra luas, menembus melalui jendela kamar kami. Angin berhembus tipis, suara ombak menderu dari kejauhan.
“Gadis bodoh mana, yang kehilangan boarding pass, lalu malah mengajak petugas berdebat.. dia kah yang hadir dalam mimpimu, suamiku?” Alya meraih wajahku, sekali lagi, tatapan matanya yang tajam menghujam jantungku.
Wajahnya dekat sekali dengan wajahku sekarang. Aku dapat melihat kerutan tipis di sudut matanya.
“Alya, aku.....” Bibirku kelu, aku ingin mengatakan banyak hal, tapi fikiranku kosong.
“Jika menemukannya, Mas akan menikahinya?” pertanyaan Alya membuatku tersentak.
“Jika dia belum menikah” jawabku cepat, tanpa berfikir.
Mata Alya melebar, mungkin dia terkejut dengan keterus teranganku. “Apakah dia begitu jelek? Sehingga jadi perawan tua? Tentunya dia seusia kita bukan? Menjelang 40 an?” tanyanya.
Aku tersenyum, aku merasa Alya sedang berusaha mencairkan keteganganku. mungkin saja dia tidak secantik istriku ini, aku benar-benar tidak tahu, karena aku hanya melihat sepatunya yang merah.
Aku bangkit dan duduk di sisinya, aku menutup jendela, dan menyibakkan tirainya, malam semakin pekat. Aku meraih tanganya, namun dia bergeming, dan berjalan ke sudut kamar. Dia membuka lemari kayu di sana, berjinjit untuk meraih kotak-kotak berisi banyak barang memori yang tak boleh kusentuh.
“jangan sampai ada yang tercecer mas, jangan dibongkar-bongkar. Kotak-kotak ini berisi kupon-kupon diskon saat kita bulan madu, tiket kereta liburan pertama kita, tisu restoran yang mas coret-coret, dan benda-benda yang tidak menarik menurut sampeyan lah pokoknya” ujarnya suatu kali, saat dia mendapati aku sedang membuka salah satu kotak.
Alya masih berjinjit dan memilih-milih, aku termenung menatap langit yang begitu luas, dengan bintang-bintang yang berkilauan. Banyak sekali kenangan, kemarahan, kekesalan, canda tawa bahagia, air mata karena pertengkaran-pertengkaran kecil kami, dan juga cinta. Ya, aku sangat mencintainya. Dia selalu mendahulukan kepentinganku, selalu menjaga perasaanku, bahkan rela meninggalkan pekerjaanya di sebuah Rumah Sakit ternama dan membuka praktik di rumah demi menjaga kehormatanku, suaminya. Dia telah begitu mengabdikan hidupnya padaku. Benarkah keputusanku ini?.
“Sepertinya mas harus mencari calon istri yang lain, gadis ceroboh bersepatu merah jambu itu, adalah aku”. Aku menoleh, terkejut dengan Alya yang telah mengganti pakaian tidurnya dengan rok lebar abu-abu, tangannya menyibak dan memperlihatkan sepatu yang dikenakannya. Tepat seperti sepatu yang hadir di mimpiku. Berwarna merah, merah yang sedikit pudar, namun cerah, seperti warna buah jambu yang baru saja dipetik, segar setelah basah disiram oleh air hujan.
Aku menatap tak percaya, mulutku terbuka, lidahku kelu,
“Aa..aap..taap..iii..inii..”
Alya tersenyum manis, maniiis sekali.


0 comments:
Post a Comment